BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pendidikan
tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan karena didalam pendidikan ada suatu
proses transfer budaya. Kebudayaan mempunyai banyak proses, salah satunya adalah
transmisis kebudayaan. Transmisi kebudayaan adalah suatu proses peralihan
kebudayaan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Proses peralihan
kebudayaan terdiri dari proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi.[1]
Didalam kebudayaan, nilai budaya tidak hanya dipindahkan dari satu generasi ke
generasi lainnya tetapi juga dalam proses interaksinya antara pribadi dengan
kebudayaan adalah suatu pribadi yang kreatif bukan pasif. Adapun salah satu
proses pembudayaan adalah difusi kebudayaan.
Perilaku
sosial terdiri dari konformitas, nilai dan perilaku kejeniskelaminan. Dalam
sistem sosial, individu menempati posisi perilaku tertentu yang disebut peran. Perilaku
sosial bertalian dengan konteks sosio budaya tertentu. Pada bahasan ini penulis
akan membahas tentang pembentukan perilaku sosial berdasarkan jenis kelamin.
Didalam perilaku kejenis kelaminan terdapat stereotip kejeniskelaminan,
ideologi peran menurut jenis kelamin dan ciri-ciri psikologis. Saat manusia
lahir maka ia telah memiliki kelamin, namun ia belum memiliki kejeniskelaminan
karena pada saat itu jenis kelamin seseorang ditetapkan berdasarkan anatomi
fisik[2].
Pendidikan dan lingkungan mempunyai
hubungan yang erat dalam pembentukan perilaku jenis kelamin. Jadi, dalam
pembahasan ini penulis akan mengkaji antara permasalahan ini.
1.2
Identifikasi
Masalah
Ø Peran
pendidikan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
Ø Pengaruh
pendidikan dan lingkungan budaya
dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
Ø Peran
kebudayaan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
1.3
Pembatasan
Masalah
Dalam hal ini
penulis akan membatasi masalah dengan “Pengaruh pendidikan dan lingkungan budaya dalam pembentukan perilaku jenis kelamin”.
1.4
Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
- Apa pengertian perilaku sosial?
- Apa pengertian stereotip kejeniskelaminan, ideologi peran dan ciri-ciri psikologis?
- Apakah hubungan antara pendidikan dalam kebudayaan?
4. Apa
pengaruh pendidikan
dalam membentuk perilaku jenis kelamin?
1.5
Tujuan
dan Manfaat Makalah
1.5.1.1 Sebagai
bahan penelitian bagi matakuliah psikologi lintas budaya
1.5.1.2 Mengetahui
seberapa besar peran Pengaruh Pendidikan dan
Lingkungan
dalam Pembentukan Perilaku Jenis Kelamin.
1.5.1.3 Sebagai
bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.1.4 Mengetahui konsep dasar dan tujuan
dari pendidikan dan
lingkungan
Dan manfaat dari
makalah ini adalah diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmu pengetahuan yang
terkait dengan penyelipan konsep pendidikan
dan lingkungan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin. Mengetahui dampak yang
ditimbulkan akibat pendidikan dan lingkungan dalam pembentukan perilaku jenis
kelamin.
Bab II
KERANGKA TEORITIS
A.
Pengertian perilaku sosial.
Perilaku
sosial terdiri dari konteks budaya,
konformitas, nilai dan perilaku kejeniskelaminan. Konteks budaya meliputi dua varian, yaitu keragaman peran dan kewajiban
peran.
Konformitas adalah suatu taraf yang memungkinkan individu
secara khas hidup dengan norma kelompoknya. Nilai adalah sesuatu yang dianut masyarakat secara koleltif dan
pribadi-pribadi secara perseorangan. Perilaku kejeniskelaminan ialah suatu pola
yang dilakukan secara sosialisasi dalam berhubungan dengan berbagai budaya.
B.
Pengertian stereotip
kejeniskelaminan, ideologi
peran dan ciri-ciri psikologis
Stereotip kejeniskelaminan adalah suatu keyakinan yang
tersebar luas dalam suatu masyarakat. Stereotip lebih menekankan penilaian
antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan. Laki-laki dan perempuan
memiliki stereotip-stereotip yang berbeda, yaitu ada pandangan bahwa laki-laki
sangat dominan, tidak bergantung dan memiliki sifat petualangan sedangkan
perempuan emosional, tunduk dan lemah. Pada umumnya anak-anak memperoleh
stereotip-stereotip kejeniskelaminan dari proses enkulturasi dan sosialisasi
yang dilakukan dalam budaya mereka. Stereotip kejeniskelaminan merupakan
keyakinan konsensual yang dianut mengenai ciri-ciri laki-laki dan perempuan.
Ideologi peran menurut jenis kelamin adalah suatu
keyakinan normatif (aturan) seperti apa seharusnya laki-laki dan perempuan, apa
seharusnya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dan sebagainya. Dalam suatu kajian
lintas budaya yang menggunakan ACL, Williams dan Best (1990) menguji bagaimana
mereka meyakini siapa diri mereka, menjadi apa seharusnya mereka, dan apa
seharusnya laki-laki dan perempuan. Mereka melakukan penelitian dengan
menggunakan skala ideologi peran kelamin (IPK dari seks role ideologi, SRI) skor yang digunakan adalah antara
tradisional dan egaliteran. Skor egaliteran ditemui pada negara yang memiliki
sosio-ekonomi yang cukup tinggi (Belanda, Jerman, Finlandia dan Inggris)
sedangkan negara dengan skor tradisional meliputi Jepang, India, Pakistan dan
Nigeria. Dalam kajian lintas budaya , J.E.Williams dan Best (1990) mempunyai
beberapa smapel butir pernyataan yang mewakili tradisional dan egalitarian.
Berikut butir pernyataan yang mewakili ideologi tradisional :
·
Jika seorang
laki-laki dan perempuan tinggal bersama, perempuan seharusnya mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan rumahtangganya dan laki-laki mengerjakan pekerjaan
rumah yang lebih berat(mencari nafkah).
·
Seorang perempuan
seharusnya membawa diri karena hal itu akan mempengaruhi pikiran orang tentang
suaminya.
·
Tugas pertama
seorang perempuan yang mempunyai anak kecil adalah berada di rumah dan mengurus
keluarganya.
Sedangkan butir untuk egalitarian adalah
·
Seorang perempuan
seharusnya memiliki kebebasan yang sama dengan laki-laki (setara).
·
Perkawinan tidak
menghambat karier seorang perempuan seperti yang terjadi pada laki-laki.
·
Perempuan diperbolehkan
memiliki kebebasan seksual yang sama dengan laki-laki.[3]
Ciri-ciri psikologis adalah suatu variasi stereotip
(penilaian) mengenai laki-laki dan perempuan. Membahas mengenai perbedaan
ciri-ciri psikologis antara laki-laki dan perempuan. Mempunyai ranah perilaku
yaitu kemampuan kognitif-perseptual, konformitas dan agresi.
Kemampuan kognisi-perseptual membahas tentang
persoalan-persoalan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, berapa pun besar
perbedaannya itu berkaitan dengan faktor ekologis dan budaya. Dalam hal ini
akan ditonjolkan kajian yaitu menurut Berry (1976) yang menguji
persoalan-persaoalan dalam suatu program penelitian tunggal yang berdasarkan
pada suatu meta analysis. Ada
anggapan umum bahwa dalam tugas-tugas spasial
laki-laki tampil lebih baik daripada perempuan. Namun, pada penelitian
yang dilakukan pada kelompok etnis masyarakat Inuit mengatakan bahwa anggapan
ini tidak muncul. Hal ini terjadi karena baik laki-laki maupun perempuan dalam
masyarakat Inuit mendapat pelatihan dan pengalaman yang sama dalam menunjang
pemerolehan kemampuan spasialnya. Keunggulan laki-laki dalam tugas spasial
muncul dalam masyarakat yang relatif ketat, menetap dan bersuasana pertanian
sedangkan hal ini tidak berlaku dengan masyarakat yang relatif kendur, nomadik
(tidak menetap, berpindah-pindah tempat), pemburu dan pengumpul. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa perbedaan yang berdasarkan jenis kelamin pada tugas-tugas
spasial itu tidak bersifat universal[4].
BAB III
KERANGKA BERPIKIR
A.
Pendidikan dalam Kebudayaan
Pada hakikatnya pendidikan merupakan suatu proses
tarnsfer (pemindahan) kebudayaan. pendidikan itu sendiri haruslah disisipkan
nilai-nilai kebudayaan. Dalam memberikan nilai-nilai kebudayan itu sendiri
tidak hanya sekedar asal memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, namun
harus ada proses interaksi didalamnya. Didalam mentrasfer nilai-nilai
kebudayaan maka akan dapat ditemukan hal-hal yang salah satunya adalah difusi
kebudayaan (penyatuan/pembauran kebudayaan).
Pada permulaan abad 20 ataupun abad 21 difusi kebudayaan
akan mempunyai pengaruh yang kuat karena pada zaman ini adalah zaman dimana
komunikasi menjadi sangat kuat peranannya apalagi pada abad ini telah terjadi
suatu proses yang disebut sebagai globalisasi. Pada zaman ini segala sesuatu
bagaikan tidak ada sekat yang membatasinya, jarak dan waktu hampir dikatakan
tidak ada karena dalam hitungan detik pesan yang ingin disampaikan telah
tersampaikan. Salah satu faktor yang mempercepat difusi kebudayaan selain
globalisasi adalah pendidikan formal, nonformal ataupun informal. Pendidikan
formal meliputi pendidikan dasar dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi
sedangkan pendidikan nonformal meliputi lemabaga bimbingan belajar, kursus dan
sebagainya dan lembaga pendidikan informal meliputi lembaga keluarga.
Didalam pendidikan formal sebenarnya telah ditanamkan
nilai-nilai dari kebudayaan. Namun, pada kenyataannya karena ada hal yang
kurang tepat proses transfer kebudayaan maka hal-hal yang diharapkan tidak akan
terjadi begitu pula yang terjadi dalam lembaga pendidikan nonformal juga tidak
mempunyai hal yang seperti ini. Untuk lembaga keluarga diharapkan hal-hal yang
diinginkan dapat diperoleh oleh peserta didik.
Kebudayaan itu pada dasarnya adalah statis karena selalu
berubah dari waktu ke waktu walaupun perubahannya itu tidak terjadi dalam
jangka waktu yang lama. Namun, pada sekarang ini kebudayaan ruang lingkupnya
hanya dibatasi sebagai suatu seni seperti tari-tarian, seni pahat dan
sebagainya. Padahal kebudayaan tidak hanya itu karena seni merupakan salah satu
unsur dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan bisa meliputi bahasa dan sastra,
kepurbakalan dan sebagainya.
Didalam difusi kebudayaan terdapat akulturasi dan
asimilasi. Akulturasi terjadinya percampuran antara kebudayaan dari luar dengan
kebudayaan lokal tanpa menghilangkan kebudayaan lokal tersebut. Sebagai contoh istilah
kata pemerintahan di Indonesia yang memasukkan istilah kata-kata budaya Jawa
(Bupati, camat, lurah dan sebagainya). Asimilasi adalah percampuran antara
budaya dari luar dengan budaya lokal yang pada akhirnya menghasilkan budaya
baru. Seperti contoh perkawinan antar etnis di Indonesia.
B.
Pendidikan dan Lingkungan dalam Pembentukan Perilaku
Jenis Kelamin
Telah dibahas dalam bab sebelumnya bahwa perilaku jenis
kelamin itu sendiri merupakan suatu pola yang dilakukan secara sosialisasi
dalam berhubungan dengan berbagai budaya I(khususnya perilaku laki-laki dan
perempuan). Cara pola asuh mereka sangat dibedakan. Untukn laki-laki mereka
diarahkan untuk hidup mandiri, pencukupan diri dan pencapaian karir sedangkan
perempuan mereka hanya diarahkan kedalam kepengasuhan (anak), tanggung jawab
(terhadap keluarga) dan kepatuhan. Pada zaman sekitar tahun 60an wanita lebih
banyak hidup dirumah daripada bekerja. Untuk pendidikan mereka sendiri dianggap
tidak penting karena perempuan hanya cocok hidup mengurus anak, memasak,
mengurus keluarga dan sebagainya sedangkan laki-laki mereka lebih diarahkan
untuk mencari nafkah, bekerja dan sebagainya. Namun, adapula disuatu daerah
(Sumatra) yang laki-lakinya justru mengurus anak, rumah tangga dan sebagainya.
Pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh justru digantikan oleh perempuan
seperti bekerja di ladang, sawah, mencari nafkah dan sebagainy sehingga banyak
perempuan didaerah tersebut yang mencari suami diluar daerahnya.
Dalam pembentukan perilaku jenis kelamin juga erat
kaitannya dengan pendidikan yang diberikan dengan orang tuanya di rumah. Pada
zaman sekarang ini banyak sekali laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita
yang menyerupai laki-laki (dalam hal perilaku). Ada orang tua yang menginginkan
anaknya pada suatu jenis kelamin tertentu tapi ketika lahir anak tersebut tidak
lahir dengan jenis kelamin yang diharapkan sehingga orang tua tersebut
cenderung mengabaikan anaknya atau memperlakukan anaknya sesuai dengan jenis
kelamin yang diinginkannya. Seperti misalkan ada orangtua yang menginginkan
anaknya berjenis kelamin laki-laki namun yang lahir adalah anak berjenis
kelamin perempuan. Akhirnya orang tua tersebut kecewa dan memperlakukan anak
perempuan tersebut sebagaimana halnya anak laki-laki. Ia diberikan pakaian,
mainan, lingkungan yang semuanya berhubungan dengan laki-laki sehingga saat ini
kita mengenai sebagai istilah wanita tomboy (menyerupai laki-laki) dan
sebaliknya pula laki-laki ada yang diperlakukan sebagai perempuan.
Selain pendidikan yang didapat dari orang tua, lingkungan
kehidupan anak juga mempengaruhi dalam pembentukan perilaku jenis kelamin anak.
Penulis mempunyai seorang teman sebut
saja R, ia berjenis kelamin laki-laki dan berkuliah di suatu jurusan disebuah
universitas di Jakarta. Ketika SMP ia menjadi seorang model dan lingkungannya
hampir semuanya adalah wanita. Ia sering didandani sebagai layaknya seorang
wanita dari penampilan, suara bahkan bodi tubuhnya diidentikkan sebagai
layaknya seorang wanita. Ia mengatakan bahwa untuk memperindah dirinya ia
diperintahkan oleh pembimbing modelnya untuk melakukan suntik hormon perempuan.
Pembimbingnya mengatakan itu adalah hal yang lumrah dalam dunia permodelan.
Akhirnya R menjadi pribadi yang sepenuhnya menyerupai perempuan. Ketika pergi
ke kampus ia memakai baju wanita, kemben, bulu mata, sepatu hak tinggi dan jika
kita tidak cermat melihatnya maka kita akan beranggapan itu wanita karena
penampilannya sangat meyakinkan sekali bahwa ia adalah perempuan. Bahkan teman
penulis sendiri pun pernah hampir saja tertipu oleh penampilannya dan setelah
diingatkan oleh teman-teman lainnya akhirnya sadar atas kekeliurannya bahwa R
adalah seorang laki-laki bukan perempuan. Beruntung R mempunyai teman-teman
yang sangat pengertian atas apa yang terjadi dengan kondisi dirinya, ia tidak
dikucilkan oleh lingkungannya justru
teman-temannya merangkul R dan menganggap sama seperti manusia lainnya.
Penulis juga akan bercerita mengenai lingkungan suatu
budaya disuatu daerah di Indonesia yang mendidik laki-laki menjadi seperti
perempuan. Daerah tersebut adalah Bone terletak di pulau Sulawesi. Disana
mereka mempunyai perkumpulan waria, waria dianggap suatu jabatan yang terhormat
dalam masyarakatnya. Waria dianggap sebagai perantara/penghubung antara dewa
dengan manusia. Penulis juga melihat dalam sejarahnya para waria tersebut adalah
sebagai pasukan penjaga senjata raja. Suatu pekerjaan yang sangat terhormat
pada saat itu. Banyak masyarakat disana juga yang bangga jika mempunyai anak
laki-laki yang menjadi waria karena itu adalah jabatan terhormat. Anak
laki-laki mereka dididik sebagaimana halnya perempuan walaupun tidak semua
orang tua melakukan hal seperti itu. Sehingga terjadi penyimpangan peran
biologis yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan Hal ini sudah menjadi budaya
yang terjadi selama berabad-abad lamanya
dan terjadi hingga saat ini[5].
Dari kedua contoh
diatas dapat diketahui bahwa pendidikan dan lingkungan turut mempunyai andil
yang besar dalam mempengaruhi pembentukan perilaku jenis kelamin. Pendidikan
yang diberikan ternyata dapat memberikan perilaku jenis kelamin tertentu bagi
individu. Lingkungan budaya juga turut memberikan andil yang besar dalam
pembentukan perilaku jenis kelamin.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN SERTA IMPLEMENTASI
- Kesimpulan
Perilaku sosial terdiri dari konteks budaya, konformitas,
nilai dan perilaku kejeniskelaminan.
Perilaku kejenis kelamin merupakan salah satu aspek dalam perilaku sosial.
Perilaku kejeniskelaminan ialah suatu pola yang dilakukan secara sosialisasi
dalam berhubungan dengan berbagai budaya.
Pendidikan
merupakan suatu proses tarnsfer (pemindahan) kebudayaan. pendidikan itu sendiri
haruslah disisipkan nilai-nilai kebudayaan. Dalam memberikan nilai-nilai
kebudayan itu sendiri tidak hanya sekedar asal memindahkan dari satu tempat ke
tempat lain, namun harus ada proses interaksi didalamnya.
Pendidikan dan lingkungan turut
mempunyai andil yang besar dalam mempengaruhi pembentukan perilaku jenis
kelamin. Pendidikan yang diberikan ternyata dapat memberikan perilaku jenis
kelamin tertentu bagi individu. Lingkungan budaya juga turut memberikan andil
yang besar dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
B.
Saran
dan Implementasi
Saran dari makalah ini adalah kita sebagai calon pendidik
harus memperhatikan bagaimana peran pendidikan dan lingkungan dapat
mempengaruhi dalam pembentukan perilaku jenis kelamin individu. Dari beberapa
contoh diatas ternyata pendidikan dan lingkungan individu punya andil yang
sangat besar. Kita sebagai calon pendidik dapat memberikan materi-materi kepada
siswa mengenai pembentukan perilaku jenis kelamin.
Daftar Pustaka
Berry,
John W., dkk. (1999). Psikologi Lintas
Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tilaar,
H.A.R. (1999). Pendidikan, kebudayaan,
dan masyarakat madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya