Sabtu, 30 April 2016

Pengaruh Pendidikan dan Lingkungan Budaya dalam Pembentukan Perilaku Jenis Kelamin



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan karena didalam pendidikan ada suatu proses transfer budaya. Kebudayaan mempunyai banyak proses, salah satunya adalah transmisis kebudayaan. Transmisi kebudayaan adalah suatu proses peralihan kebudayaan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Proses peralihan kebudayaan terdiri dari proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi.[1] Didalam kebudayaan, nilai budaya tidak hanya dipindahkan dari satu generasi ke generasi lainnya tetapi juga dalam proses interaksinya antara pribadi dengan kebudayaan adalah suatu pribadi yang kreatif bukan pasif. Adapun salah satu proses pembudayaan adalah difusi kebudayaan.
Perilaku sosial terdiri dari konformitas, nilai dan perilaku kejeniskelaminan. Dalam sistem sosial, individu menempati posisi perilaku tertentu yang disebut peran. Perilaku sosial bertalian dengan konteks sosio budaya tertentu. Pada bahasan ini penulis akan membahas tentang pembentukan perilaku sosial berdasarkan jenis kelamin. Didalam perilaku kejenis kelaminan terdapat stereotip kejeniskelaminan, ideologi peran menurut jenis kelamin dan ciri-ciri psikologis. Saat manusia lahir maka ia telah memiliki kelamin, namun ia belum memiliki kejeniskelaminan karena pada saat itu jenis kelamin seseorang ditetapkan berdasarkan anatomi fisik[2].
Pendidikan dan lingkungan mempunyai hubungan yang erat dalam pembentukan perilaku jenis kelamin. Jadi, dalam pembahasan ini penulis akan mengkaji antara permasalahan ini.

1.2  Identifikasi Masalah
Ø  Peran pendidikan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
Ø  Pengaruh pendidikan dan lingkungan budaya dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
Ø  Peran kebudayaan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.

1.3  Pembatasan Masalah
Dalam hal ini penulis akan membatasi masalah dengan “Pengaruh pendidikan dan lingkungan budaya  dalam pembentukan perilaku jenis kelamin”.

1.4  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
  1. Apa pengertian perilaku sosial?
  2. Apa pengertian stereotip kejeniskelaminan, ideologi peran dan ciri-ciri psikologis?
  3. Apakah hubungan antara pendidikan dalam kebudayaan?
4.      Apa pengaruh pendidikan dalam membentuk perilaku jenis kelamin?

1.5  Tujuan dan Manfaat Makalah
1.5.1.1  Sebagai bahan penelitian bagi matakuliah psikologi lintas budaya
1.5.1.2  Mengetahui seberapa besar peran Pengaruh Pendidikan dan Lingkungan dalam Pembentukan Perilaku Jenis Kelamin.
1.5.1.3  Sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.1.4  Mengetahui konsep dasar dan tujuan dari pendidikan dan lingkungan
Dan manfaat dari makalah ini adalah diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmu pengetahuan yang terkait dengan penyelipan konsep pendidikan dan lingkungan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin. Mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat pendidikan dan lingkungan dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.















Bab II
KERANGKA TEORITIS
A.    Pengertian perilaku sosial.
Perilaku sosial terdiri dari konteks budaya, konformitas, nilai dan perilaku kejeniskelaminan. Konteks budaya meliputi dua varian, yaitu keragaman peran dan kewajiban peran. Konformitas adalah suatu taraf yang memungkinkan individu secara khas hidup dengan norma kelompoknya. Nilai adalah sesuatu yang dianut masyarakat secara koleltif dan pribadi-pribadi secara perseorangan. Perilaku kejeniskelaminan ialah suatu pola yang dilakukan secara sosialisasi dalam berhubungan dengan berbagai budaya.
B.     Pengertian stereotip kejeniskelaminan, ideologi peran dan ciri-ciri psikologis
Stereotip kejeniskelaminan adalah suatu keyakinan yang tersebar luas dalam suatu masyarakat. Stereotip lebih menekankan penilaian antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan. Laki-laki dan perempuan memiliki stereotip-stereotip yang berbeda, yaitu ada pandangan bahwa laki-laki sangat dominan, tidak bergantung dan memiliki sifat petualangan sedangkan perempuan emosional, tunduk dan lemah. Pada umumnya anak-anak memperoleh stereotip-stereotip kejeniskelaminan dari proses enkulturasi dan sosialisasi yang dilakukan dalam budaya mereka. Stereotip kejeniskelaminan merupakan keyakinan konsensual yang dianut mengenai ciri-ciri laki-laki dan perempuan.
Ideologi peran menurut jenis kelamin adalah suatu keyakinan normatif (aturan) seperti apa seharusnya laki-laki dan perempuan, apa seharusnya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dan sebagainya. Dalam suatu kajian lintas budaya yang menggunakan ACL, Williams dan Best (1990) menguji bagaimana mereka meyakini siapa diri mereka, menjadi apa seharusnya mereka, dan apa seharusnya laki-laki dan perempuan. Mereka melakukan penelitian dengan menggunakan skala ideologi peran kelamin (IPK dari seks role ideologi, SRI) skor yang digunakan adalah antara tradisional dan egaliteran. Skor egaliteran ditemui pada negara yang memiliki sosio-ekonomi yang cukup tinggi (Belanda, Jerman, Finlandia dan Inggris) sedangkan negara dengan skor tradisional meliputi Jepang, India, Pakistan dan Nigeria. Dalam kajian lintas budaya , J.E.Williams dan Best (1990) mempunyai beberapa smapel butir pernyataan yang mewakili tradisional dan egalitarian. Berikut butir pernyataan yang mewakili ideologi tradisional :
·         Jika seorang laki-laki dan perempuan tinggal bersama, perempuan seharusnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumahtangganya dan laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah  yang lebih berat(mencari nafkah).
·         Seorang perempuan seharusnya membawa diri karena hal itu akan mempengaruhi pikiran orang tentang suaminya.
·         Tugas pertama seorang perempuan yang mempunyai anak kecil adalah berada di rumah dan mengurus keluarganya.
Sedangkan butir untuk egalitarian adalah
·         Seorang perempuan seharusnya memiliki kebebasan yang sama dengan  laki-laki (setara).
·         Perkawinan tidak menghambat karier seorang perempuan seperti yang terjadi pada laki-laki.
·         Perempuan diperbolehkan memiliki kebebasan seksual yang sama dengan laki-laki.[3]
Ciri-ciri psikologis adalah suatu variasi stereotip (penilaian) mengenai laki-laki dan perempuan. Membahas mengenai perbedaan ciri-ciri psikologis antara laki-laki dan perempuan. Mempunyai ranah perilaku yaitu kemampuan kognitif-perseptual, konformitas dan agresi.
Kemampuan kognisi-perseptual membahas tentang persoalan-persoalan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, berapa pun besar perbedaannya itu berkaitan dengan faktor ekologis dan budaya. Dalam hal ini akan ditonjolkan kajian yaitu menurut Berry (1976) yang menguji persoalan-persaoalan dalam suatu program penelitian tunggal yang berdasarkan pada suatu meta analysis. Ada anggapan umum bahwa dalam tugas-tugas spasial  laki-laki tampil lebih baik daripada perempuan. Namun, pada penelitian yang dilakukan pada kelompok etnis masyarakat Inuit mengatakan bahwa anggapan ini tidak muncul. Hal ini terjadi karena baik laki-laki maupun perempuan dalam masyarakat Inuit mendapat pelatihan dan pengalaman yang sama dalam menunjang pemerolehan kemampuan spasialnya. Keunggulan laki-laki dalam tugas spasial muncul dalam masyarakat yang relatif ketat, menetap dan bersuasana pertanian sedangkan hal ini tidak berlaku dengan masyarakat yang relatif kendur, nomadik (tidak menetap, berpindah-pindah tempat), pemburu dan pengumpul. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang berdasarkan jenis kelamin pada tugas-tugas spasial itu tidak bersifat universal[4].




BAB III
KERANGKA BERPIKIR
A.    Pendidikan dalam Kebudayaan
Pada hakikatnya pendidikan merupakan suatu proses tarnsfer (pemindahan) kebudayaan. pendidikan itu sendiri haruslah disisipkan nilai-nilai kebudayaan. Dalam memberikan nilai-nilai kebudayan itu sendiri tidak hanya sekedar asal memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, namun harus ada proses interaksi didalamnya. Didalam mentrasfer nilai-nilai kebudayaan maka akan dapat ditemukan hal-hal yang salah satunya adalah difusi kebudayaan (penyatuan/pembauran kebudayaan).
Pada permulaan abad 20 ataupun abad 21 difusi kebudayaan akan mempunyai pengaruh yang kuat karena pada zaman ini adalah zaman dimana komunikasi menjadi sangat kuat peranannya apalagi pada abad ini telah terjadi suatu proses yang disebut sebagai globalisasi. Pada zaman ini segala sesuatu bagaikan tidak ada sekat yang membatasinya, jarak dan waktu hampir dikatakan tidak ada karena dalam hitungan detik pesan yang ingin disampaikan telah tersampaikan. Salah satu faktor yang mempercepat difusi kebudayaan selain globalisasi adalah pendidikan formal, nonformal ataupun informal. Pendidikan formal meliputi pendidikan dasar dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi sedangkan pendidikan nonformal meliputi lemabaga bimbingan belajar, kursus dan sebagainya dan lembaga pendidikan informal meliputi lembaga keluarga.
Didalam pendidikan formal sebenarnya telah ditanamkan nilai-nilai dari kebudayaan. Namun, pada kenyataannya karena ada hal yang kurang tepat proses transfer kebudayaan maka hal-hal yang diharapkan tidak akan terjadi begitu pula yang terjadi dalam lembaga pendidikan nonformal juga tidak mempunyai hal yang seperti ini. Untuk lembaga keluarga diharapkan hal-hal yang diinginkan dapat diperoleh oleh peserta didik.
Kebudayaan itu pada dasarnya adalah statis karena selalu berubah dari waktu ke waktu walaupun perubahannya itu tidak terjadi dalam jangka waktu yang lama. Namun, pada sekarang ini kebudayaan ruang lingkupnya hanya dibatasi sebagai suatu seni seperti tari-tarian, seni pahat dan sebagainya. Padahal kebudayaan tidak hanya itu karena seni merupakan salah satu unsur dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan bisa meliputi bahasa dan sastra, kepurbakalan dan sebagainya.
Didalam difusi kebudayaan terdapat akulturasi dan asimilasi. Akulturasi terjadinya percampuran antara kebudayaan dari luar dengan kebudayaan lokal tanpa menghilangkan kebudayaan lokal tersebut. Sebagai contoh istilah kata pemerintahan di Indonesia yang memasukkan istilah kata-kata budaya Jawa (Bupati, camat, lurah dan sebagainya). Asimilasi adalah percampuran antara budaya dari luar dengan budaya lokal yang pada akhirnya menghasilkan budaya baru. Seperti contoh perkawinan antar etnis di Indonesia.
B.     Pendidikan dan Lingkungan dalam Pembentukan Perilaku Jenis Kelamin
Telah dibahas dalam bab sebelumnya bahwa perilaku jenis kelamin itu sendiri merupakan suatu pola yang dilakukan secara sosialisasi dalam berhubungan dengan berbagai budaya I(khususnya perilaku laki-laki dan perempuan). Cara pola asuh mereka sangat dibedakan. Untukn laki-laki mereka diarahkan untuk hidup mandiri, pencukupan diri dan pencapaian karir sedangkan perempuan mereka hanya diarahkan kedalam kepengasuhan (anak), tanggung jawab (terhadap keluarga) dan kepatuhan. Pada zaman sekitar tahun 60an wanita lebih banyak hidup dirumah daripada bekerja. Untuk pendidikan mereka sendiri dianggap tidak penting karena perempuan hanya cocok hidup mengurus anak, memasak, mengurus keluarga dan sebagainya sedangkan laki-laki mereka lebih diarahkan untuk mencari nafkah, bekerja dan sebagainya. Namun, adapula disuatu daerah (Sumatra) yang laki-lakinya justru mengurus anak, rumah tangga dan sebagainya. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh justru digantikan oleh perempuan seperti bekerja di ladang, sawah, mencari nafkah dan sebagainy sehingga banyak perempuan didaerah tersebut yang mencari suami diluar daerahnya.
Dalam pembentukan perilaku jenis kelamin juga erat kaitannya dengan pendidikan yang diberikan dengan orang tuanya di rumah. Pada zaman sekarang ini banyak sekali laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (dalam hal perilaku). Ada orang tua yang menginginkan anaknya pada suatu jenis kelamin tertentu tapi ketika lahir anak tersebut tidak lahir dengan jenis kelamin yang diharapkan sehingga orang tua tersebut cenderung mengabaikan anaknya atau memperlakukan anaknya sesuai dengan jenis kelamin yang diinginkannya. Seperti misalkan ada orangtua yang menginginkan anaknya berjenis kelamin laki-laki namun yang lahir adalah anak berjenis kelamin perempuan. Akhirnya orang tua tersebut kecewa dan memperlakukan anak perempuan tersebut sebagaimana halnya anak laki-laki. Ia diberikan pakaian, mainan, lingkungan yang semuanya berhubungan dengan laki-laki sehingga saat ini kita mengenai sebagai istilah wanita tomboy (menyerupai laki-laki) dan sebaliknya pula laki-laki ada yang diperlakukan sebagai perempuan.
Selain pendidikan yang didapat dari orang tua, lingkungan kehidupan anak juga mempengaruhi dalam pembentukan perilaku jenis kelamin anak. Penulis mempunyai seorang teman  sebut saja R, ia berjenis kelamin laki-laki dan berkuliah di suatu jurusan disebuah universitas di Jakarta. Ketika SMP ia menjadi seorang model dan lingkungannya hampir semuanya adalah wanita. Ia sering didandani sebagai layaknya seorang wanita dari penampilan, suara bahkan bodi tubuhnya diidentikkan sebagai layaknya seorang wanita. Ia mengatakan bahwa untuk memperindah dirinya ia diperintahkan oleh pembimbing modelnya untuk melakukan suntik hormon perempuan. Pembimbingnya mengatakan itu adalah hal yang lumrah dalam dunia permodelan. Akhirnya R menjadi pribadi yang sepenuhnya menyerupai perempuan. Ketika pergi ke kampus ia memakai baju wanita, kemben, bulu mata, sepatu hak tinggi dan jika kita tidak cermat melihatnya maka kita akan beranggapan itu wanita karena penampilannya sangat meyakinkan sekali bahwa ia adalah perempuan. Bahkan teman penulis sendiri pun pernah hampir saja tertipu oleh penampilannya dan setelah diingatkan oleh teman-teman lainnya akhirnya sadar atas kekeliurannya bahwa R adalah seorang laki-laki bukan perempuan. Beruntung R mempunyai teman-teman yang sangat pengertian atas apa yang terjadi dengan kondisi dirinya, ia tidak dikucilkan oleh lingkungannya  justru teman-temannya merangkul R dan menganggap sama seperti manusia lainnya.
Penulis juga akan bercerita mengenai lingkungan suatu budaya disuatu daerah di Indonesia yang mendidik laki-laki menjadi seperti perempuan. Daerah tersebut adalah Bone terletak di pulau Sulawesi. Disana mereka mempunyai perkumpulan waria, waria dianggap suatu jabatan yang terhormat dalam masyarakatnya. Waria dianggap sebagai perantara/penghubung antara dewa dengan manusia. Penulis juga melihat dalam sejarahnya para waria tersebut adalah sebagai pasukan penjaga senjata raja. Suatu pekerjaan yang sangat terhormat pada saat itu. Banyak masyarakat disana juga yang bangga jika mempunyai anak laki-laki yang menjadi waria karena itu adalah jabatan terhormat. Anak laki-laki mereka dididik sebagaimana halnya perempuan walaupun tidak semua orang tua melakukan hal seperti itu. Sehingga terjadi penyimpangan peran biologis yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan Hal ini sudah menjadi budaya  yang terjadi selama berabad-abad lamanya dan terjadi hingga saat ini[5].
 Dari kedua contoh diatas dapat diketahui bahwa pendidikan dan lingkungan turut mempunyai andil yang besar dalam mempengaruhi pembentukan perilaku jenis kelamin. Pendidikan yang diberikan ternyata dapat memberikan perilaku jenis kelamin tertentu bagi individu. Lingkungan budaya juga turut memberikan andil yang besar dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.













BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN SERTA IMPLEMENTASI
  1. Kesimpulan
Perilaku sosial terdiri dari konteks budaya, konformitas, nilai dan perilaku kejeniskelaminan. Perilaku kejenis kelamin merupakan salah satu aspek dalam perilaku sosial. Perilaku kejeniskelaminan ialah suatu pola yang dilakukan secara sosialisasi dalam berhubungan dengan berbagai budaya.
Pendidikan merupakan suatu proses tarnsfer (pemindahan) kebudayaan. pendidikan itu sendiri haruslah disisipkan nilai-nilai kebudayaan. Dalam memberikan nilai-nilai kebudayan itu sendiri tidak hanya sekedar asal memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, namun harus ada proses interaksi didalamnya.
Pendidikan dan lingkungan turut mempunyai andil yang besar dalam mempengaruhi pembentukan perilaku jenis kelamin. Pendidikan yang diberikan ternyata dapat memberikan perilaku jenis kelamin tertentu bagi individu. Lingkungan budaya juga turut memberikan andil yang besar dalam pembentukan perilaku jenis kelamin.
B.     Saran dan Implementasi
                  Saran dari makalah ini adalah kita sebagai calon pendidik harus memperhatikan bagaimana peran pendidikan dan lingkungan dapat mempengaruhi dalam pembentukan perilaku jenis kelamin individu. Dari beberapa contoh diatas ternyata pendidikan dan lingkungan individu punya andil yang sangat besar. Kita sebagai calon pendidik dapat memberikan materi-materi kepada siswa mengenai pembentukan perilaku jenis kelamin.

Daftar Pustaka

Berry, John W., dkk. (1999). Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tilaar, H.A.R. (1999). Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya



[1] H.A.R Tilaar, Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), h.54
[2] Berry, w john dkk. 1999. Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
[3] Berry, w john dkk. Psikologi..., hlm. 128.
[4] Berry, w john dkk. Psikologi..., hlm. 129-131
[5] Didapat dalam acara kultur budaya dari chanel Elshinta TV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar